Berita Terkini

KENDAL — Sebagai salah satu bentuk pelaksanaan program kerja sosial kemasyarakatan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim II Universitas Diponegoro dari program studi Antropologi Sosial, Hubungan Internasional, serta Informasi dan Humas mengadakan kegiatan belajar bersama untuk anak-anak di Desa Cepiring pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Kegiatan ini diisi dengan materi tentang pengenalan negara-negara ASEAN, keberagaman budaya Indonesia, serta pentingnya hidup rukun di tengah perbedaan.
Melihat pentingnya wawasan kebangsaan dan geopolitik bagi anak-anak, tim mahasiswa merancang sistem belajar interaktif layaknya bimbingan belajar bagi siswa Sekolah Dasar (SD). Materi disampaikan menggunakan tayangan presentasi (PowerPoint) melalui laptop yang memuat visual menarik tentang keragaman suku dan adat Nusantara, hingga peran Indonesia di ranah kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Dativus Very Aninda Adi Hartanto menuturkan bahwa pengenalan ASEAN penting diberikan sejak usia sekolah dasar untuk menumbuhkan kesadaran diri anak-anak sebagai bagian dari masyarakat global. Sementara itu, Jehova Albert Artwindo menekankan pendekatan kebudayaan untuk memupuk toleransi dan rasa bangga terhadap identitas budaya lokal sejak dini.
"Agar materi yang terkesan berat ini bisa diserap dengan mudah, kami mengemasnya secara visual, komunikatif, dan menyenangkan," ujar Nabila Zahra Artasania yang mengelola strategi komunikasi dan penyampaian informasi selama kegiatan.
Kegiatan dilaksanakan di empat RW di Desa Cepiring. Pertemuan pertama berlangsung di RW 3 pada 28 Juli. Kegiatan kemudian dilanjutkan di RW 2 pada 29 Juli dan RW 4 pada 30 Juli. Pertemuan terakhir berlangsung di RW 1 pada 3 Agustus 2026.
Anak-anak terlebih dahulu diajak mengenal negara-negara ASEAN melalui materi “Ayo Mengenal ASEAN.” Mereka diperkenalkan dengan nama negara, bendera, serta letak negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Penyampaian materi menggunakan gambar agar lebih mudah dipahami dan tidak terasa seperti pembelajaran di sekolah.
Setelah materi selesai, anak-anak mengikuti permainan menggunakan peta gabus yang telah disiapkan oleh tim KKN. Mereka diminta menempatkan bendera negara ASEAN pada lokasi yang sesuai. Anak-anak terlihat bersemangat saat mencari letak negara dan mencocokkan benderanya. Beberapa anak juga saling membantu ketika menemukan negara yang belum mereka kenal.

Materi berikutnya membahas “Keberagaman Budaya Nusantara.” Anak-anak diajak mengenal berbagai suku, rumah adat, dan tradisi dari sejumlah wilayah Indonesia. Pengenalan dilakukan dengan bantuan gambar sehingga anak-anak bisa melihat langsung bentuk rumah adat dan berbagai kebudayaan yang sedang dibahas.
Pembahasan juga menyentuh keberagaman aliran kepercayaan yang ada di Indonesia. Anak-anak dikenalkan pada kenyataan bahwa masyarakat Indonesia memiliki latar belakang dan cara menjalankan kehidupan yang beragam. Perbedaan tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan mereka sehari-hari bersama teman dan masyarakat sekitar.
Di akhir materi, tim KKN menggunakan perumpamaan lidi untuk menjelaskan arti persatuan. Satu batang lidi mudah dipatahkan. Beberapa batang lidi yang disatukan menjadi sapu akan jauh lebih kuat. Contoh sederhana ini digunakan untuk menjelaskan bahwa persatuan membuat orang memiliki kekuatan yang lebih besar.
Anak-anak juga diajak membicarakan toleransi. Mereka diberikan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti berteman dengan orang yang memiliki kebiasaan berbeda. Perbedaan agama, kebiasaan, maupun latar belakang bukan alasan untuk menjauhi teman. Sikap saling menghargai menjadi hal yang ditekankan dalam pembahasan ini.
Setiap pertemuan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Anak-anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari tim KKN. Suasana kegiatan cukup ramai karena banyak anak yang ikut menjawab dan berebut untuk mencoba permainan.

Kegiatan di empat RW tersebut menjadi ruang belajar bersama bagi anak-anak Desa Cepiring. Mereka mendapatkan pengetahuan baru mengenai negara-negara di sekitar Indonesia dan melihat kembali beragam kebudayaan yang ada di dalam negeri. Materi tentang toleransi juga diberikan dengan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka sehingga lebih mudah dipahami.
Kolaborasi mahasiswa dari tiga bidang keilmuan membuat kegiatan ini memiliki materi yang beragam. Pengetahuan tentang ASEAN, budaya Indonesia, dan kehidupan sosial disampaikan dalam satu rangkaian kegiatan dengan permainan sebagai bagian dari proses belajar. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak Desa Cepiring.
Penanggung jawab kegiatan dan penulis:
Dipost : 14 Agustus 2026 | Dilihat : 44
Share :